Selasa, 30 Oktober 2012

Menatap Langit Putus Asa,,

Diamku dalam renungan kekosongan,,
satu tangan kugenggam cinta,,
satu mata kulukis dusta,,
saat hati dipaksa terbagi,,
adalah celah bunuh diri,,
satu rangkai roman prématur mengais puisi sungsang,,
tanpa isi,,
hanya hentakan caci maki,,
dalam hati,,
sebelah jati diri terpecah dalam rintik wangi kebohongan,,
akal tak lagi kekal dalam jejak yang tak ku kenal,,
gorésan nyata dari cermin pancarkan buruk rupa,,
busuk terkutuk dibalut sutera,,
jejakan satu kaki di surga dimana neraka kembali buka suara,,
malaikat tak lagi mau payungi saat sétan menampar pelan,,
kembali dalam dekapan hitam kehidupan mengelus nyata,,
mata déwa terbutakan cinta yang memekik semerbak bangkai,,
tangkai mawar patah dalam genggaman mentari,,
membakar hari yang tak lagi hangat membalik dunia,,
rantai cinta yang pecah dalam pahatan kaca,,
kau adalah angkara yang kucinta,,
tanpa bisa kurasa,,
satu tangan terbuka dalam ketertutupan tangan yang lain,,
lupakan ikatan dalam sebait janji sarat arti,,
tanpa syarat kuuntai cinta,,
tapi kenyataan meminta tumbal,,
dalam satu pilihan mutlak ku jalan terpincang,,
tak mampu terima tapi dipaksa meminta dunia,,
tangga ketiga yang kupijak dalam tujuh mutiara,,
hinakah aku bila mencintaimu dalam ketidak berpihakan dunia,,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar