Selasa, 27 November 2012

Ceritaku,, Sejarahku,,

Jangan campuri ceritaku,,
Hidupku adalah untukku,,
Dan tak ada satu pun sangkut pautnya dengan hidupmu,,
Jalanku telah tertata dalam lingkaran menyala,,
Takkan kupadamkan dalam setitik kobaran angkara,,

Jangan penggal sejarahku,,
Aku tak pernah mau mengajakmu mengulang cerita,,
Apa pun yang ada begitulah nyatanya,,
Tak perlu takut aku menatapmu,, kembali,,
Dalam hatiku masih menjunjung ketidak mungkinan di permukaan bumi,,
Meniti mimpi bukanlah jalan bunuh diri,,
Meretas nurani pecahkan kemudi,,

Jangan ikuti hidupku,,
Meski dari jauh dan terdiam,,
Tatapan tumpul jelas buktikan,,
Dalam kesunyian beranjak pelan,,
Mengerek asa dalam luapan,,
Mengejar sunyi sebuah tanya tanpa jawaban,,

Jangan menuntut harapanku,,
Semua mimpi ini jelas milikku,,
Langkah ini adalah pelitaku,,
Menyala mengelilingi pandanganku,,
Harapan bukanlah sebuah dosa,,
Disana terukir jutaan do'a,,
Dan tak sekali pun tertulis namamu atau pun mereka,,
Pengulangan mungkin biasa buat orang-orang disana,,
Bukan aku,, karena aku berbeda,,

Jangan merusak halamanku,,
Apapun itu adalah untukku,,
Bukan untuk mereka ataupun kamu,,
Dan masa laluku adalah jalan hidupku,,
Tak mungkin dihapus atau dipenggal,,
Kurangkai dalam catatan tanpa sesal,,
Bukan mengikat jalur menuai kebanggaan,,
Tapi cerminan sejarah sebagai tuntunan sebuah jalan,,
Bunuh halangan dalam jutaan tantangan,,

Dan untuk kau tahu,,
Inilah ceritaku,,
Inilah sejarahku,,
Dan hanya ada aku,,

Untuk Kau Mengerti,,

Sedikit banyak waktu berlalu tanpa mampu kutahan,, 
Harapan demi harapan yang telah terlewatkan,, 
Berganti mimpi kecil menaklukan dunia,, 
Dan sayap hitam malaikat pun khan tersenyum menyapa,, 
Tak perlu mengungkit satu kata,, 
Masa lalu tetaplah berdiri memaku bumi,, 
Tak mungkin dihapus seperti kilatan malam dihapus fajar,, 
Dan bintik tunggal mentari tak bisa diraih,, 
Mematahkan catatan adalah kehidupan,, 
Cerita lampau tetap terjaga sebagai kenangan untuk tersenyum,, 
Terdiam kala sedih,, 
Dan tertawa kala bahagia,, 
Nostalgia dalam dunia pribadi tak mengganggu nurani,, 
Bukan untukmu nona,, 
Kutasbihkan jalan berbatu ini dalam pasukanku sendiri,, 
Tak perlu kau nakhodai untuk sampai di pelataran,, 
Aku tak butuh itu,, 
Dan aku tak ingin itu,,

Rabu, 14 November 2012

Langkah Kelam menuju Kematian,,

Kupatahkan harapan dalam tiang keyakinan,,
kugadaikan cinta dalam lubang dusta,,
berganti muka tak obati luka,,
kutebar nestapa dalam lahat derita,,
berikan aku mimpi yang indah arungi sepi,,
langkahku terarah memapah berdiri melintas bunuh diri,,
teriakan sumpah mengalun membelah,,
pecahlah keagungan cinta dalam dawai tercela,,

hentikanlah aku demi ketenanganku dalam kematianku,,
perjuangan kuanggap usai dalam himpitan penyesalan yang tak pernah terungkapkan,,
bunuhlah aku dengan segala cintaku,,
atau kau bisa menyiksaku lebih jauh,,
pelan-pelan berilah aku senyum kebencian,,
berpaling muka dalam cinta menutup suara,,

Menanti Kekalahan Abadi,,

Lelap kuterbaring dalam duri di tepi sepi,,
sayup-sayup dari jauh kudengar makian yang mengutukku,,
hanya satu teriakan pasti,,
darimu mentari sunyi,,

batas antara maya dan nyata terhampar tanpa alis samar mengukir cakrawala,,
dalam tantangan kutanam kebencian atas namaku,,
satu harapan yang tak mungkin kudapatkan adalah kematian dalam pelukan,,
pekik mimpi tak lagi berarti saat hati tak mampu akui cinta yang dibenci,,

kulémpar bendéra putih kesiangan di awal fajar,,
kugantung cinta setengah tiang tanpa mampu kutekan lebih dalam,,
hamparan bukit harapan warisan perjuangan yang gagal,,
dasar aorta telah tersumbat darah beku yang terlalu membisu,,

diam dalam tekanan sumpah yang salah,,
ikatan janji yang memaki dalam limpahan waktu menuntut petisi,,
khayalan dangkal mengubur pesan sayang akhiri perjuangan,,
hati terlanjur lari dari hasutan bunuh diri,,
adalah takdirku terpaku dalam waktu menanti kekalahan abadi,,
kemunafikan bodohi kebenaran yang dipatahkan kehancuran,,

Ketika Senyummu adalah Kutukan,,

Kembali kutuntun jari memahat puisi patah hati,,
dalam téma nista kuuntai cerita,,
langkah mundur dalam tetapan waktu berbalik menamparku,,
ada yang hilang dari tatapan mata seorang perawan,,
kehangatan seuntai senyuman payungi kenyataan tak lagi terkembang,,
hanya tinggal sapaan hampa yang selalu kau rasa,,
apalah arti cinta saat derita menjelma,,
kering meradang batang otak kuasai mimpi yang tak mungkin bersemi,,
dalam kehidupan kedua mungkin kudamba cinta atas nama dusta,,

Keraguan ditengah Keyakinan,,

Diam-diam nanarku menétési ubin mimpi,,
lembab dan bersayap dia teriak,,
nanarku tawarkan keyakinan yang tenggelam,,
ratapi mimpi yang jelas temaram,,
rantai cinta berkarat dalam nyanyian dusta,,
yang terpaksa bicara karena keputus-asaan pilihan,,
lengkap cinta menuntut syarat dalam keberpihakan dunia,,

andaiku adalah pejuang tanpa nama,,
kutantang takdir atas nama senja,,
tapi ada namaku dalam cinta,,
dan akulah sang pendusta,,
dalam kutukan perasaan kutimbun pusara tanpa makna,,
ada kehilangan yang besar dari sebuah nilai keyakinan,,
kehampaan yang bertahta tak dapat menerka,,

kemanakah cinta kusapa saat cinta palingkan muka,,
satu nama yang takkan ada,,
hanya sampah cinta mengundang bencana,,
kutukan yang menjelma nyata adalah sisa nyawa yang kupunya,,

Ketika Hitam adalah Pilihan,,

Saat mentari bernyanyi di ujung hari,,
kuhampiri untuk kutikam kibarkan mimpi,,
dalam mélodi sakit hati ia berkata sejuta dusta,,
tangisan tanpa air mata meniti bumi,,
retaklah ladang cintaku yang kusiangi tiap waktu,,
gelaplah hari pertanda mentari memanja cuti,,
saat jejak tak lagi terlihat amarah memuncak,,
ku kejar kemana mentari sembunyi,,
di balik dunia ia tertawa,,
lantang mengutuk mata semua yang ia siksa,,

malaikat tak lagi dekat saat sétan bergeliat dalam gelap,,
meréka dipaksa lelap dalam ayunan surga hampa,,
satu panah telah tertancap jelas dalam nama,,
ku lihat lebih dekat,,
adalah aku sang pencuri waktu,,

terkutukkah aku dalam tipu cintaku,,
kucari busur yang baru untuk melepas panah kearahmu,,
keras menggilas cadas hatimu yang t'lah membatu,,
beku,,
panahku koyak,,

kulihat dari kejauhan pintu surga bersorak,,
inikah tanda tak ada lagi namaku di sana,,
kutatap satu per satu mata meréka,,
tak ada,,
mémang tak ada namaku disana,,

pejuang mérah abadi dengan tanduk menyala menyapa,,
jangan takut kawan,,
berjuanglah tanpa lelah,,
bunuh sinar-sinar murka dari sayap meréka,,
bakarlah surga dan bawa meréka ke dasar neraka,,

ketakutan dan dendam membaur,,
inikah jalanku,,
larut dalam liku dingin tebing pusaka,,
tanpa cahaya karna surya tak juga menyapa,,
inikah nadir dalam dasar takdir yang kupunya,,
tanpa dia datang atas nama cinta kalungkan luka diatas duka yang membara,,