Saat mentari bernyanyi di ujung hari,,
kuhampiri untuk kutikam kibarkan mimpi,,
dalam mélodi sakit hati ia berkata sejuta dusta,,
tangisan tanpa air mata meniti bumi,,
retaklah ladang cintaku yang kusiangi tiap waktu,,
gelaplah hari pertanda mentari memanja cuti,,
saat jejak tak lagi terlihat amarah memuncak,,
ku kejar kemana mentari sembunyi,,
di balik dunia ia tertawa,,
lantang mengutuk mata semua yang ia siksa,,
malaikat tak lagi dekat saat sétan bergeliat dalam gelap,,
meréka dipaksa lelap dalam ayunan surga hampa,,
satu panah telah tertancap jelas dalam nama,,
ku lihat lebih dekat,,
adalah aku sang pencuri waktu,,
terkutukkah aku dalam tipu cintaku,,
kucari busur yang baru untuk melepas panah kearahmu,,
keras menggilas cadas hatimu yang t'lah membatu,,
beku,,
panahku koyak,,
kulihat dari kejauhan pintu surga bersorak,,
inikah tanda tak ada lagi namaku di sana,,
kutatap satu per satu mata meréka,,
tak ada,,
mémang tak ada namaku disana,,
pejuang mérah abadi dengan tanduk menyala menyapa,,
jangan takut kawan,,
berjuanglah tanpa lelah,,
bunuh sinar-sinar murka dari sayap meréka,,
bakarlah surga dan bawa meréka ke dasar neraka,,
ketakutan dan dendam membaur,,
inikah jalanku,,
larut dalam liku dingin tebing pusaka,,
tanpa cahaya karna surya tak juga menyapa,,
inikah nadir dalam dasar takdir yang kupunya,,
tanpa dia datang atas nama cinta kalungkan luka diatas duka yang membara,,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar