Lelap kuterbaring dalam duri di tepi sepi,,
sayup-sayup dari jauh kudengar makian yang mengutukku,,
hanya satu teriakan pasti,,
darimu mentari sunyi,,
batas antara maya dan nyata terhampar tanpa alis samar mengukir cakrawala,,
dalam tantangan kutanam kebencian atas namaku,,
satu harapan yang tak mungkin kudapatkan adalah kematian dalam pelukan,,
pekik mimpi tak lagi berarti saat hati tak mampu akui cinta yang dibenci,,
kulémpar bendéra putih kesiangan di awal fajar,,
kugantung cinta setengah tiang tanpa mampu kutekan lebih dalam,,
hamparan bukit harapan warisan perjuangan yang gagal,,
dasar aorta telah tersumbat darah beku yang terlalu membisu,,
diam dalam tekanan sumpah yang salah,,
ikatan janji yang memaki dalam limpahan waktu menuntut petisi,,
khayalan dangkal mengubur pesan sayang akhiri perjuangan,,
hati terlanjur lari dari hasutan bunuh diri,,
adalah takdirku terpaku dalam waktu menanti kekalahan abadi,,
kemunafikan bodohi kebenaran yang dipatahkan kehancuran,,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar